TASIKMALAYA | Media Kabar Sembilan — Gerakan Bersama Edukasi Masyarakat (Geber Emas) Memilah Sampah Menabung Emas untuk mewujudkan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) terus bergerak menanamkan kesadaran pengelolaan sampah dari tingkat desa. Kali ini, edukasi menyasar 28 peserta dalam rapat koordinasi RT dan RW Desa Kamulyan, Rabu, 9 September 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan Bank Sampah Salimah Desa Kamulyan sebagai bagian fungsi Bank Sampah, Edukasi Pengelolaan lingkungan yang dilakukan secara serentak oleh bank sampah binaan PT Pegadaian di seluruh Indonesia.
Bank Sampah Salimah disebut menjadi satu-satunya bank sampah di Kabupaten Tasikmalaya yang masuk dalam binaan PT Pegadaian di Kabupaten Tasikmalaya, adapun bank Sampah yang ingin menjadi binaan PT. Pegadaian dengan komunitasnya yang bernama Forsepsi harus menjadi Unit dari Bank Sampah Salimah atau bank sampah lain yang telah menjadi binaan.
Kehadiran Geber Emas dalam rapat koordinasi RT dan RW dinilai strategis. Para ketua lingkungan merupakan pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat sekaligus memiliki peran penting dalam mendorong kebiasaan memilah dan mengelola sampah dari rumah.
Edukasi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Persoalan sampah membutuhkan perubahan perilaku, kedisiplinan, serta keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui program tersebut, masyarakat diberikan pemahaman bahwa sampah yang tidak dikelola dapat mendatangkan mudarat bagi kesehatan dan lingkungan. Sebaliknya, sampah yang dipilah dan diolah dengan benar dapat memiliki nilai guna, bahkan nilai ekonomi.
Enam Kegiatan Edukasi
Rapat koordinasi RT dan RW Desa Kamulyan menjadi kegiatan keenam yang dilaksanakan Bank Sampah Salimah dalam rangkaian Geber Emas periode 1,
Gerakan tersebut diawali dengan keikutsertaan dalam pawai peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Kegiatan kedua dilaksanakan di SDN Kamulyan pada 28 Agustus 2026 dengan melibatkan 104 siswa. Edukasi sejak usia sekolah menjadi langkah penting untuk membentuk kebiasaan memilah sampah sebelum persoalan lingkungan semakin membesar.
Kegiatan ketiga menyasar 11 peserta Sekolah Lansia Salimah (Salsa). Selanjutnya, edukasi keempat dilaksanakan di TK PGRI Mulyasari dengan melibatkan 39 peserta yang terdiri atas anak-anak, guru, dan orang tua.
Kegiatan kelima berlangsung di Majelis Taklim Miftahul Huda Al-Makiyah dan menjangkau sekitar 275 peserta. Adapun kegiatan keenam dilaksanakan dalam rapat koordinasi RT dan RW Desa Kamulyan yang diikuti 28 peserta.
Dari enam kegiatan yang mencantumkan jumlah peserta, sedikitnya 457 orang telah dijangkau. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa edukasi pengelolaan sampah mulai menyentuh berbagai kelompok, mulai dari anak-anak, orang tua, lansia, jemaah majelis taklim, hingga aparat lingkungan.
Sampah Harus Diubah Menjadi Manfaat
Geber Emas membawa pesan bahwa penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari sumbernya. Masyarakat tidak cukup hanya membuang sampah, tetapi harus dibiasakan memilah, mengurangi, menggunakan kembali, serta menyerahkan sampah bernilai ekonomi kepada bank sampah.
Perubahan besar tidak akan lahir tanpa keberanian mengubah kebiasaan kecil. Jika sampah terus dibuang sembarangan atau dicampur tanpa pemilahan, dampaknya akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk pencemaran, saluran tersumbat, banjir, penyakit, dan kerusakan lingkungan.
Sebaliknya, pengelolaan yang tepat dapat mengubah sampah dari sumber masalah menjadi sumber manfaat. Selain menjaga kebersihan lingkungan, sampah yang memiliki nilai jual dapat membantu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Edukasi kepada RT dan RW diharapkan tidak berhenti di ruang rapat. Pengetahuan yang diperoleh harus diteruskan kepada warga dan diwujudkan melalui gerakan nyata di setiap lingkungan.
Desa Kamulyan kini memiliki modal sosial untuk bergerak. Tantangannya adalah menjaga konsistensi, memperluas pemilahan sampah dari rumah, dan memastikan bank sampah tumbuh sebagai bagian dari solusi lingkungan bukan sekadar nama dalam sebuah program.
Geber Emas harus menjadi gerakan yang hidup di tengah masyarakat. Sampah yang semula mendatangkan mudarat harus diubah menjadi manfaat bagi lingkungan, kesehatan, dan perekonomian warga.
(Yustaman | Biro Tasikmalaya)










