KABUPATEN TASIKMALAYA | Media Kabar Sembilan — Ratusan guru Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Tasikmalaya mengikuti kegiatan Berkawan dengan Alam (BDA) di kawasan wisata Arga Hot Springs, Desa Sundakerta, Kecamatan Sukahening, Kamis, 10 September 2026.
Mengusung tema “Dari Alam dengan Cinta untuk Masa Depan Anak,” kegiatan yang digagas PD Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) bersama KKKRA Kabupaten Tasikmalaya itu tidak sekadar menjadi agenda rekreasi. Alam ditempatkan sebagai ruang belajar untuk memperkuat kapasitas guru dalam pemanfaatan sumber alam sebagai media belajar sekaligus menanamkan karakter kepada anak sejak usia dini.
Ketua PD IGRA, Kabupaten Tasikmalaya Dr. Depon Nurul Aida, S.Ag. M.Pd menjelaskan, program BDA sejalan dengan Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Salah satu nilai penting di dalamnya adalah kecintaan terhadap alam dan lingkungan.
“Melalui alam, murid-murid belajar merawat lingkungan, memanfaatkan alam sebagai sumber pembelajaran, serta mensyukuri nikmat Allah SWT. Ketika anak mampu bersyukur, di situlah tumbuh kecintaannya kepada Allah,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru RA dalam merancang pembelajaran berbasis alam yang bermakna, kontekstual, menyenangkan, serta sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya memahami konsep pembelajaran secara teoritis. Nilai-nilai yang diperoleh dalam kegiatan BDA harus diterjemahkan menjadi metode belajar yang nyata dan dirasakan langsung oleh murid.
“Kami ingin peserta memahami konsep BDA secara utuh, bukan hanya kemasannya, tetapi juga substansinya. Nilai dari kegiatan ini harus sampai kepada muird RA,” tegasnya.
Alam Menjadi Ruang Pembentukan Karakter
Melalui permainan berbasis alam, guru diharapkan mampu melatih kedisiplinan, tanggung jawab, pengendalian diri, kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, serta kebiasaan saling membantu pada diri murid.
Pembelajaran kontekstual melalui kegiatan bermain yang interaktif juga dinilai lebih efektif karena murid tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi terlibat langsung dalam pengalaman bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
“Muird belajar bermain bergantian, mengantre, menyelesaikan permainan, bekerja sama, peduli kepada sesama, dan menjaga lingkungan. Semua itu menjadi bagian penting dari penguatan karakter dan perkembangan sosial dan emosional murid,” jelasnya.
Program BDA merupakan kelanjutan dari program parenting yang sebelumnya dilaksanakan PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya. Program parenting difokuskan pada pembangunan sinergi antara sekolah dan orang tua dalam pembentukan karakter murid.
Kedua program tersebut menjadi bagian dari kontribusi nyata PD IGRA terhadap peningkatan mutu pendidikan karakter di Kabupaten Tasikmalaya.
“Kami memiliki tagline, ‘Dari PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya untuk Kabupaten Tasikmalaya.’ Ke depan, kami berharap langkah kecil ini dapat berkembang menjadi kontribusi PD IGRA untuk Jawa Barat Istimewa,” katanya.
Diikuti 668 Peserta
Kegiatan BDA diikuti satu perwakilan dari setiap RA dengan jumlah sekitar 550 orang. Selain itu, hadir 35 ketua Pengurus Cabang dan 35 ketua KKKRA, serta sejumlah tamu undangan.
Secara keseluruhan, jumlah peserta dan undangan yang mengikuti kegiatan tersebut mencapai sekitar 668 orang.
Turut hadir perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Ketua PD IGRA Kota Tasikmalaya, Ketua PD IGRA Kabupaten Ciamis, serta sejumlah unsur organisasi dan pegiat pendidikan.
Tingginya jumlah peserta menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru RA bukan kebutuhan kecil. Penguatan kualitas pendidik harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun fondasi karakter generasi mendatang.
Guru RA Masih Dihadapkan pada Kesenjangan Sarana
Di balik semangat meningkatkan kualitas pembelajaran, adalah upaya PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya untuk mengganti keterbatasan sarana yang masih dihadapi banyak lembaga RA.
Menurut Ketua PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya, kesenjangan dukungan fasilitas antara RA dan lembaga pendidikan anak usia dini lainnya masih terasa. Bantuan berupa perangkat digital maupun alat bermain dinilai belum terasa untuk RA.
Persoalan tersebut bahkan telah disampaikan dalam audiensi di Senayan. Guru RA tidak ingin terus menjadi penonton ketika lembaga pendidikan lain memperoleh dukungan fasilitas yang lebih memadai.
“Ketika lembaga lain mendapatkan bantuan media digital dan mebel, RA sering kali hanya menjadi penonton. Karena sarana kami terbatas, kami berusaha merancang inovasi untuk menunjukkan kualitas dari sisi proses pembelajaran, kompetensi guru dan kemitraan,” tegasnya.
Keterbatasan fasilitas, lanjutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan mutu pendidikan. Namun, pemerintah juga tidak boleh menjadikan semangat dan pengabdian guru RA sebagai dalih untuk terus membiarkan kesenjangan berlangsung.
PD IGRA mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang telah memberikan insentif kepada sebagian guru RA. Meski belum dirasakan secara merata, perhatian tersebut dinilai menjadi langkah awal yang patut dihargai.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Bupati. Walaupun belum seluruhnya sama, beberapa guru RA sudah menikmati insentif. Kami juga mendengar adanya upaya memberikan bantuan kepada RA dan berharap rencana tersebut benar-benar dapat direalisasikan,” ujarnya.
Program pendidikan karakter membutuhkan lebih dari sekadar slogan. Pemerintah dan pemangku kebijakan harus memastikan guru RA memperoleh dukungan, fasilitas, dan kesempatan yang adil untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Sebab, jika RA dipercaya membentuk fondasi akhlak dan karakter anak sejak usia dini, maka lembaganya tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri dalam keterbatasan.
(Yustaman |Biro Tasikmalaya)










