TASIKMALAYA | Media Kabar Sembilan — Program PESTA–TELUR (Program Ekonomi dan Stunting Terpadu Melalui Budidaya Ayam Petelur) yang diluncurkan beberapa bulan lalu di Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, mulai menunjukkan perkembangan positif.
Bukan sekadar berhenti pada seremoni peluncuran, program yang mengintegrasikan penanganan stunting dengan penguatan ketahanan pangan dan ekonomi keluarga itu terus dipantau langsung di lapangan.
Penggagas Program PESTA–TELUR, Yanti Permayanti, S.KM., M.M., Kepala Bidang Dalduk KB pada Dinas Sosial PPKB P3A Kabupaten Tasikmalaya, secara rutin melakukan monitoring untuk memastikan program berjalan sesuai konsep dan benar-benar memberikan manfaat kepada keluarga penerima manfaat (KPM).
Monitoring kembali dilakukan pada Rabu, 9 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, Yanti didampingi Abah Irdas untuk melihat langsung perkembangan budidaya ayam petelur serta kondisi keluarga penerima manfaat.
Hasil monitoring menunjukkan program secara umum berjalan positif. Berdasarkan evaluasi di lapangan, tingkat keberjalanan program dinilai mencapai sekitar 90,9 persen.
Meski demikian, pelaksanaan program bukan tanpa kendala. Sejumlah ayam yang diberikan kepada penerima manfaat dilaporkan mati. Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi agar pengelolaan, pemeliharaan, kesehatan ternak, hingga pendampingan kepada KPM dapat terus diperbaiki.
“Kalau kami melihat hasilnya, program ini sudah berjalan sekitar 90,9 persen. Kekurangan yang masih ditemukan di lapangan menjadi bahan evaluasi. Ada beberapa ayam yang mati dan ada faktor kesalahan manusia atau human error dalam proses pemeliharaan. Itu yang harus terus kita benahi melalui pendampingan,” ujar Yanti.
15 Ayam per KPM, Telur Diproduksi Setiap Hari
Dari hasil monitoring, perkembangan produksi ayam petelur menjadi salah satu indikator yang cukup menggembirakan.
Setiap KPM sebelumnya mendapatkan 15 ekor ayam petelur. Berdasarkan keterangan sejumlah penerima manfaat, ayam-ayam tersebut kini telah berproduksi dan menghasilkan telur hampir setiap hari.
Dalam kondisi produksi optimal, satu KPM dapat memperoleh sekitar 14 hingga 15 butir telur per hari. Hasil tersebut menjadi sumber pangan bergizi yang dapat dikonsumsi keluarga, terutama balita dan ibu hamil.
Di sinilah konsep PESTA–TELUR mulai terlihat nyata. Telur tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi ditempatkan sebagai sumber protein hewani yang tersedia langsung di lingkungan keluarga.
Apabila kebutuhan konsumsi keluarga telah terpenuhi, kelebihan produksi dapat dijual sehingga memberikan tambahan penghasilan.
Dengan asumsi nilai hasil produksi sekitar Rp20 ribu per hari, keluarga berpotensi memperoleh nilai ekonomi sekitar Rp600 ribu dalam satu bulan. Nilai tersebut memang bukan angka yang besar jika dilihat semata-mata sebagai pendapatan, tetapi menjadi berarti ketika keluarga juga memperoleh sumber protein untuk konsumsi rumah tangga tanpa harus seluruhnya membeli dari pasar.
Program ini dengan demikian mulai memperlihatkan dua manfaat sekaligus: telur masuk ke meja makan untuk memperkuat gizi keluarga, sementara kelebihan produksinya dapat berubah menjadi nilai ekonomi.
KPM Sebut Berat Badan Anak Mulai Bertambah
Dampak yang lebih penting terlihat ketika monitoring menyentuh sasaran utama program, yakni keluarga yang memiliki anak terindikasi stunting.
Salah seorang penerima manfaat mengungkapkan bahwa anaknya yang sebelumnya dinyatakan mengalami stunting mulai menunjukkan perkembangan. Berat badan anak tersebut disebut mengalami peningkatan setelah program berjalan.
Temuan itu menjadi catatan penting. Namun, perkembangan kondisi anak tetap perlu dipantau dan diukur secara berkala oleh tenaga kesehatan agar perubahan status gizi dapat dipastikan berdasarkan indikator kesehatan yang terukur, bukan semata-mata berdasarkan pengamatan.
Yanti mengatakan, berdasarkan perkembangan data yang mereka pantau, jumlah anak yang terindikasi stunting di Desa Pusparaja juga mengalami penurunan.
Jika pada tahap awal program terdapat 12 anak yang terindikasi stunting, kini jumlah tersebut disebut telah menurun menjadi 5 anak.
“Memang ada perkembangan. Yang sebelumnya tercatat 12 anak, sekarang menurun menjadi lima anak. Ini tentu menjadi perkembangan yang harus terus kita jaga dan kita kawal,” kata Yanti.
Penurunan tersebut menjadi sinyal positif, tetapi pekerjaan belum selesai. Lima anak yang masih tercatat bukan sekadar angka statistik. Mereka tetap menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan intervensi, pendampingan, pemenuhan gizi, serta pengawasan kesehatan secara berkelanjutan.
Bukan Program Seremonial
PESTA–TELUR sejak awal dirancang bukan sebagai bantuan sesaat. Program ini mencoba memutus pola intervensi yang berhenti ketika bantuan selesai diberikan.
Melalui budidaya ayam petelur, keluarga didorong memiliki sumber protein secara mandiri. Sistem tersebut kemudian diintegrasikan dengan budidaya maggot dan ikan sehingga membentuk siklus produksi pangan rumah tangga yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Karena itu, keberhasilan pilot project PESTA–TELUR tidak cukup diukur dari jumlah kandang yang dibangun atau ayam yang dibagikan. Ukuran keberhasilannya harus terlihat dari keberlangsungan ternak, konsistensi produksi telur, peningkatan konsumsi protein keluarga, perkembangan kondisi anak, serta munculnya nilai ekonomi bagi penerima manfaat.
Monitoring berkala menjadi penting agar setiap persoalan dapat ditemukan sejak dini. Kematian ternak, kesalahan pemeliharaan, persoalan pakan maupun kendala teknis lainnya tidak boleh dibiarkan menjadi titik lemah yang menggerus tujuan besar program.
Yanti menegaskan bahwa monitoring akan terus dilakukan agar PESTA–TELUR tidak kehilangan arah setelah diluncurkan.
Program ini masih berstatus pilot project. Karena itu, hasil yang muncul di Desa Pusparaja akan menjadi bahan penting untuk mengukur efektivitas program sebelum konsep serupa dikembangkan dalam skala yang lebih luas di Kabupaten Tasikmalaya.
Jika perkembangan positif dapat dipertahankan dan kekurangan di lapangan terus diperbaiki, PESTA–TELUR berpeluang menjadi model intervensi stunting yang tidak hanya memberikan asupan hari ini, tetapi membangun kemampuan keluarga untuk memproduksi pangan, memenuhi kebutuhan protein, dan memperoleh nilai ekonomi secara mandiri.
Sebab perang melawan stunting tidak cukup dengan membagikan bantuan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang hidup, berjalan, diawasi, dan mampu membuat keluarga berdiri di atas kekuatannya sendiri.
(Media Kabar Sembilan | Biro Tasikmalaya)










