Sebagai wujud komitmen tersebut, Bupati Tasikmalaya secara langsung menyerahkan Piagam Penghargaan kepada Agus Sudarsono, atas dedikasi dan kontribusinya dalam pengembangan inovasi Eco-Paving Block berbahan sampah residu. Penyerahan penghargaan dilakukan di hadapan para tokoh masyarakat, akademisi, pemerhati lingkungan, perangkat pemerintah, serta ratusan tamu undangan yang menghadiri launching perdana Institut Alam Rimba Puncak Suji.
Penghargaan itu menjadi simbol bahwa inovasi yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan layak mendapat apresiasi sekaligus dukungan nyata dari pemerintah daerah.
Dalam struktur kelembagaannya, Institut Alam Rimba Puncak Suji membentuk sembilan divisi strategis sebagai motor penggerak pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu divisi yang memiliki peran penting adalah Divisi Konservasi dan Lingkungan, yang dinahkodai oleh Agus Sudarsono, Divisi ini bertugas mengembangkan riset, inovasi teknologi tepat guna, serta berbagai program konservasi yang mampu menjawab persoalan lingkungan hidup di tengah meningkatnya krisis sampah dan perubahan iklim.
Melalui piagam yang diterbitkan Direktorat Institut Alam Rimba Puncak Suji, Agus Sudarsono menerima penghargaan sebagai Peneliti Teknik Material – Eco-Paving Block. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi, ketekunan, serta kontribusi ilmiahnya dalam mengembangkan material konstruksi ramah lingkungan berbasis limbah daur ulang.
Inovasi Eco-Paving Block merupakan hasil riset yang mengubah sampah residu limbah yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai dan sulit didaur ulang menjadi material konstruksi yang kuat, bernilai ekonomi, dan ramah lingkungan. Teknologi ini memanfaatkan berbagai jenis plastik residu seperti kemasan multilayer, kantong plastik, styrofoam, hingga limbah plastik campuran yang diolah melalui proses pencacahan, pemanasan, dan pencetakan menjadi paving block berkualitas.
Di tengah semakin terbatasnya kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), inovasi tersebut menawarkan solusi yang nyata. Sampah residu yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat diubah menjadi produk yang memiliki manfaat langsung bagi pembangunan infrastruktur lingkungan, seperti halaman sekolah, taman, jalur pejalan kaki, hingga fasilitas umum desa.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk konstruksi, pengembangan Eco-Paving Block juga membuka peluang tumbuhnya ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat menjadi sumber penghasilan baru melalui pengolahan dan produksi paving block, sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Direktur Institut Alam Rimba Puncak Suji, Resta Syada, menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para peneliti dan inovator yang terus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan lingkungan melalui karya ilmiah dan teknologi tepat guna.
“Institut Alam Rimba Puncak Suji tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi laboratorium kehidupan. Kami ingin melahirkan inovasi yang tidak berhenti di ruang penelitian, melainkan hadir sebagai solusi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Penghargaan ini adalah bentuk apresiasi kepada mereka yang memilih berkarya untuk bumi dan masa depan generasi berikutnya,” ujarnya.
Penyerahan piagam secara langsung oleh Bupati Tasikmalaya sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap lahirnya inovasi-inovasi lokal yang mampu menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Dukungan tersebut diharapkan menjadi energi bagi para peneliti, akademisi, komunitas lingkungan, serta generasi muda untuk terus melahirkan karya yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Ke depan, hasil penelitian Eco-Paving Block juga direncanakan akan diintegrasikan dengan program GARSAKTA (Gerakan Sedekah Sampah) yang dikembangkan Institut Alam Rimba Puncak Suji. Melalui konsep tersebut, masyarakat didorong untuk menyetorkan sampah residu ke bank sampah, kemudian diolah menjadi paving block yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas pendidikan, ruang terbuka hijau, jalan lingkungan, hingga sarana publik lainnya.
Model ini tidak hanya mengurangi timbunan sampah menuju TPA, tetapi juga membangun budaya baru bahwa limbah bukan lagi sekadar persoalan, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi nilai ekonomi sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat.
Media Kabar Sembilan memandang penghargaan yang diserahkan langsung oleh Bupati Tasikmalaya ini bukan sekadar bentuk apresiasi kepada seorang peneliti. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi penegasan bahwa masa depan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh keberanian melahirkan inovasi. Ketika pendidikan, riset, kepedulian terhadap lingkungan, dan dukungan pemerintah berjalan seiring, maka akan lahir solusi-solusi yang mampu menjawab tantangan zaman.
Peluncuran Institut Alam Rimba Puncak Suji pun diharapkan menjadi titik awal lahirnya pusat pendidikan berbasis alam yang tidak hanya mencetak generasi berkarakter, tetapi juga melahirkan peneliti, inovator, dan pelopor perubahan yang mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membangun kemandirian masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.
(Kabar Sembilan | Biro Tasikmalaya)










