GAYO LUES | Media Kabar Sembilan — SMA Negeri 1 Terangun memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-67 melalui upacara yang dirangkaikan dengan aksi gotong royong serentak di lingkungan sekolah.
Peringatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Momentum Hardikda dijadikan ruang refleksi untuk mengevaluasi perjalanan pendidikan sekaligus memperkuat disiplin, karakter, kepedulian, dan tanggung jawab seluruh warga sekolah.
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala SMA Negeri 1 Terangun, Riduan, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa dunia pendidikan di Kecamatan Terangun masih menghadapi berbagai tantangan.
Perkembangan teknologi, perubahan pola belajar, kedisiplinan, serta pembentukan karakter peserta didik menjadi persoalan yang harus dijawab melalui kerja bersama dan komitmen berkelanjutan.
“Berbagai tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti maju. Siswa SMA Negeri 1 Terangun harus mampu menjadi agen perubahan, dimulai dari hal sederhana, seperti disiplin, menjaga kebersihan, menghormati guru, serta memberikan manfaat bagi sekolah dan masyarakat,” tegas Riduan.
Menurutnya, siswa tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Mereka juga harus tumbuh menjadi generasi yang memiliki integritas, kepedulian sosial, tanggung jawab, serta keberanian membawa perubahan positif di lingkungannya.
Ia menekankan bahwa semangat Hardikda tidak boleh berakhir setelah upacara selesai. Nilai-nilai pendidikan harus diterjemahkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti dalam pidato maupun slogan.
“Gotong royong mengajarkan bahwa perubahan tidak cukup hanya dibicarakan. Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, dan nyaman hanya dapat diwujudkan apabila seluruh warga sekolah memiliki kepedulian dan tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Seusai upacara, seluruh siswa, guru, dan petugas kebersihan langsung bergerak melaksanakan gotong royong. Kegiatan dibagi ke dalam sejumlah kelompok, mulai dari tim kebersihan ruang kelas dan lingkungan sekolah, tim penataan taman, hingga tim perapian perpustakaan.
Keterlibatan seluruh warga sekolah memperlihatkan bahwa kebersihan dan kenyamanan lingkungan belajar bukan hanya tanggung jawab petugas tertentu. Setiap siswa dan tenaga pendidik memiliki peran yang sama dalam menjaga fasilitas sekolah.
Aksi tersebut sekaligus menjadi pembelajaran langsung tentang arti kebersamaan. Para siswa tidak hanya menerima pendidikan melalui ruang kelas, tetapi juga belajar bekerja sama, membangun kepedulian, dan menyelesaikan tanggung jawab secara kolektif.
Semangat Tut Wuri Handayani pun diwujudkan melalui keteladanan para guru yang ikut terlibat dalam kegiatan. Guru memberikan contoh, sementara siswa mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, tertib, dan nyaman.
Rangkaian peringatan Hardikda ke-67 kemudian ditutup dengan refleksi dan foto bersama. Pada kesempatan tersebut, Riduan kembali menegaskan pesan utama yang menjadi semangat kegiatan:
“Sekolah bersih karena kita, karakter kuat karena kita.”
Melalui kegiatan tersebut, SMA Negeri 1 Terangun menegaskan komitmennya membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada angka dan prestasi akademik. Pendidikan juga harus melahirkan generasi yang berkarakter, disiplin, peduli terhadap lingkungan, serta mampu bekerja bersama.
Peringatan Hardikda ke-67 menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Dibutuhkan keterlibatan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, dan masyarakat untuk bergerak dalam satu tujuan.
Dengan mengusung semangat “Ingat dengan Upacara, Buktikan dengan Gotong Royong,” keluarga besar SMA Negeri 1 Terangun menyatakan tekad untuk terus bergerak menjadi sekolah yang bersatu, berkarakter, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong.
(Irwan Saputra Lubis | Kaperwil Aceh)










