Lomba Nguseup Tradisional 2026 Siap Digelar, Warga Diajak Merawat Walungan Cimedang

TASIKMALAYA | Media Kabar Sembilan — Semangat melestarikan tradisi sekaligus menjaga lingkungan akan dipadukan dalam Lomba Nguseup Tradisional 2026, yang akan digelar di Walungan Cimedang, Jembatan Pelangi, RT 01/RW 01, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Kegiatan bertajuk Festival Walungan Cimedang: “Tanam Sebanyak-banyak, Ambil Secukupnya” itu dijadwalkan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 16.30 WIB.

Lomba tersebut bukan sekadar ajang mencari ikan atau memperebutkan hadiah. Di balik kemeriahannya, tersimpan pesan kuat agar masyarakat kembali memperhatikan kebersihan sungai, menjaga ekosistem, serta mengambil hasil alam secara wajar dan bertanggung jawab.

“Ka pasar meuli kembang, kembang malati nu seungitna. Hayu ka Walungan Cimedang, nguseup babarengan sa-ridhona,” demikian ajakan yang disampaikan panitia.

Joran Tradisional Wajib, Racun dan Jala Dilarang

Sesuai dengan semangat kegiatan, peserta diwajibkan menggunakan joran tradisional berupa bambu atau tegek polos. Penggunaan alat pancing modern, jala, racun, dan cara-cara lain yang dapat merusak lingkungan dilarang keras.

Umpan yang diperbolehkan berasal dari bahan alami, seperti cacing, lumut, laron, dan jenis umpan alami lainnya. Peserta juga dipersilakan mengenakan pakaian bebas, rapi, dan unik untuk menambah kemeriahan perlombaan.

Ketentuan tersebut menegaskan bahwa tradisi memancing harus tetap berjalan tanpa mengorbankan keberlangsungan kehidupan di dalam sungai.

Sebab, sungai bukan tempat untuk dieksploitasi sesuka hati. Sungai merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama agar manfaatnya tetap dapat dirasakan oleh generasi mendatang.

Pendaftaran Gratis, Bronjong dan Batu Hanya Guyonan

Panitia menegaskan bahwa Lomba Nguseup Tradisional 2026 tidak memungut biaya pendaftaran alias gratis.

Informasi mengenai peserta cukup membawa bronjong dan batu dipastikan hanya candaan untuk mencairkan suasana, bukan persyaratan resmi yang harus dipenuhi peserta.

“Tenang, lomba ini gratis. Tulisan peserta cukup membawa bronjong dan batu itu cuma guyonan, Bang. Kalau benar harus membawa bronjong dan batu, biayanya malah bisa lebih mahal daripada hadiah lombanya,” canda panitia kepada Media Kabar Sembilan.

Peserta cukup datang membawa joran tradisional, umpan alami, dan semangat untuk meramaikan kegiatan.

Panitia juga menyiapkan kopi, leupeut, dan bala-bala. Peserta diperbolehkan membawa makanan ringan masing-masing untuk dinikmati bersama selama perlombaan berlangsung.

“Kopi, leupeut, dan bala-bala insyaallah kami sediakan. Kalau mau membawa makanan ringan sendiri juga boleh, supaya nguseupnya makin betah. Yang penting jangan sampai ikannya lebih dahulu menikmati umpan, sementara pemancingnya malah sibuk ngopi,” seloroh panitia.

Hadiah Bukan Tujuan Utama

Panitia menyiapkan sejumlah hadiah untuk para pemenang. Juara pertama akan memperoleh uang tunai sebesar Rp50 ribu ditambah lauk, juara kedua Rp30 ribu ditambah lauk, sedangkan juara ketiga memperoleh Rp20 ribu ditambah lauk.

Selain itu, tersedia kategori khusus bagi peserta yang berhasil memperoleh ikan terberat dan ikan terbanyak.

Meski demikian, nilai utama kegiatan ini tidak terletak pada besarnya hadiah atau banyaknya ikan yang berhasil diperoleh. Kebersamaan, silaturahmi, pelestarian tradisi, dan tumbuhnya kepedulian terhadap sungai menjadi tujuan yang jauh lebih penting.

Lomba ini diharapkan menjadi ruang pertemuan masyarakat yang sederhana, hangat, dan menyenangkan. Warga dapat berkumpul, bercanda, menikmati suasana sungai, serta membangun kembali kesadaran bahwa lingkungan yang bersih merupakan tanggung jawab bersama.

Sungai Harus Dijaga, Bukan Sekadar Dijadikan Arena Lomba

Pesan “Tanam Sebanyak-banyak, Ambil Secukupnya” tidak boleh berhenti sebagai slogan di dalam poster. Pesan tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam menjaga Walungan Cimedang.

Sampah yang dibuang sembarangan, penggunaan racun, penangkapan ikan secara berlebihan, dan berbagai tindakan merusak lainnya dapat perlahan mematikan kehidupan sungai.

Karena itu, masyarakat, pemerintah desa, komunitas, dan seluruh pihak terkait harus bergerak bersama memastikan sungai tetap bersih, sehat, serta terbebas dari sampah dan praktik penangkapan ikan yang merusak.

Kemeriahan perlombaan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, semangat menjaga sungai harus terus hidup setelah acara selesai.

Panitia mengajak seluruh masyarakat datang dan memeriahkan Lomba Nguseup Tradisional 2026 di Walungan Cimedang, Jembatan Pelangi, RT 01/RW 01, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya.

Masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut dapat menghubungi panitia melalui WhatsApp Mang Edy Coy di nomor 0813-1242-1462.

Walungan Cimedang bukan hanya tempat memancing. Sungai adalah ruang hidup yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan dalam keadaan tetap lestari. Mengambil hasil alam adalah hak, tetapi menjaganya merupakan kewajiban.

Media Kabar Sembilan | Biro Tasikmalaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *