Risna Nurhajani Ikuti Sarasehan Bersama Ibu Wakil Bupati, Bank Sampah Resik Dorong Gerakan Lingkungan Tak Berhenti di Seremoni

TASIKMALAYA | MEDIA KABAR SEMBILAN — Persoalan lingkungan tidak cukup dibicarakan di ruang-ruang diskusi. Dibutuhkan keberanian untuk bergerak, konsistensi dalam menjaga lingkungan, serta kolaborasi nyata antara pemerintah dan masyarakat.

Semangat itulah yang mengemuka dalam sarasehan yang digelar Bank Sampah Resik bersama Ibu Wakil Bupati Tasikmalaya. Kegiatan tersebut turut dihadiri Duta Lingkungan Jawa Barat, Risna Nurhajani, dan menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.

Sarasehan mempertemukan unsur pemerintah, penggiat lingkungan, komunitas, dan generasi muda. Berbagai persoalan lingkungan dibahas secara terbuka, mulai dari pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya hingga perlunya membangun kesadaran masyarakat agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai slogan.

Bagi Risna Nurhajani, persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri, sementara masyarakat juga tidak dapat hanya menunggu kebijakan. Dibutuhkan gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia pendidikan, hingga generasi muda agar gerakan lingkungan dapat berjalan secara konsisten,” ujar Risna.

Menurutnya, generasi muda harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam gerakan lingkungan. Anak muda bukan sekadar objek edukasi, tetapi harus diberi ruang untuk menjadi penggerak, pencipta gagasan, sekaligus teladan dalam menerapkan perilaku ramah lingkungan.

Energi, kreativitas, dan keberanian generasi muda dinilai menjadi modal penting untuk mendorong perubahan di tengah masyarakat. Karena itu, keterlibatan anak muda dalam berbagai kegiatan lingkungan harus diperluas dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

“Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan untuk mengajak lebih banyak orang bergerak. Karena itu, kita harus memberikan ruang bagi anak muda untuk terlibat dan mengambil peran dalam isu lingkungan,” katanya.

Risna juga menyoroti pentingnya keberadaan bank sampah sebagai salah satu instrumen pemberdayaan masyarakat. Bank sampah bukan sekadar tempat mengumpulkan sampah, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah sekaligus memberikan nilai ekonomi terhadap sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat harus dibangun melalui edukasi yang dilakukan secara terus-menerus. Pengetahuan mengenai lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi harus diterjemahkan menjadi kebiasaan dan aksi nyata.

Di titik inilah keberadaan komunitas dan bank sampah menjadi penting. Mereka berada langsung di tengah masyarakat dan memiliki ruang yang besar untuk mengubah pola pikir sekaligus membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

Risna mengapresiasi langkah Bank Sampah Resik yang terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam persoalan lingkungan. Ia menilai gerakan semacam itu harus diperkuat melalui kolaborasi yang lebih luas, sehingga pengelolaan lingkungan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sarasehan bersama Ibu Wakil Bupati Tasikmalaya tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum bertukar gagasan. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi titik temu untuk memperkuat sinergi pemerintah, bank sampah, komunitas lingkungan, dunia pendidikan, dan generasi muda dalam melahirkan aksi nyata.

Sebab, lingkungan yang bersih tidak lahir dari banyaknya seremoni, melainkan dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus. Kesadaran harus dibangun, sampah harus dikelola, dan gerakan harus dijaga agar tetap hidup di tengah masyarakat.(tim)

Pos terkait