Institut Alam Rimba–IGRA Perkuat Kurikulum Ekologi, Siap Menjangkau 18 Ribu Siswa RA

TASIKMALAYA | Media Kabar Sembilan — Institut Alam Rimba (IAR) Puncak Suji bersama Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) memperkuat penerapan pendidikan berbasis alam sejak usia dini. Melalui kolaborasi tersebut, Kurikulum Ekologi IAR diproyeksikan menjangkau sekitar 2.800 guru dan 18.000 siswa RA di Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan kerja sama yang digelar di Saung Dataku Institut Alam Rimba Puncak Suji, Gunung Raja, Desa Pusparaja, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan itu dihadiri Camat Cigalontang Roni Imroni, Kepala Puskesmas Cigalontang beserta jajaran, Ketua PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya Dr. Depon Nurul Aida, S.Ag., M.Pd., serta perwakilan IGRA Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis.

Turut hadir Khifayati Nursetiana, S.Pd., istri Wakil Bupati Tasikmalaya yang juga merupakan salah satu Dewan Pembina Institut Alam Rimba; Irman Hirdarsah atau Abah Irdas, Dewan Pembina Institut Alam Rimba; Frista Mutiara, S.Pd., dari Bidang Lingkungan Hidup Dinas PUTRLH Kabupaten Tasikmalaya; serta Yanti Permayanti, S.KM., M.M., Kabid Keluarga Berencana pada Dinas Sosial PPKB P3A Kabupaten Tasikmalaya sekaligus penanggung jawab Program Pesta Telur.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman positif. Konsep Kurikulum Ekologi yang dikembangkan Institut Alam Rimba dinilai dapat diterapkan dalam pembelajaran RA dengan mengintegrasikan pendidikan lingkungan, pembentukan karakter, kesehatan, pemenuhan gizi, dan ketahanan pangan.

Kerja sama ini tidak boleh berhenti pada pertemuan ataupun dokumentasi. Setiap kesepakatan harus diterjemahkan menjadi langkah kerja yang konkret, terukur, dan berkelanjutan melalui penyusunan panduan pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, praktik bersama peserta didik, serta evaluasi secara berkala.

BDA Sejalan dengan Kurikulum Berbasis Cinta

Ketua PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya, Dr. Depon Nurul Aida, menjelaskan bahwa program Berkawan dengan Alam (BDA) memiliki arah yang sejalan dengan Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Salah satu nilai penting di dalamnya ialah menumbuhkan kecintaan anak terhadap alam dan lingkungan sebagai bagian dari rasa syukur kepada Allah SWT.

“Melalui alam, murid-murid belajar merawat lingkungan, memanfaatkan alam sebagai sumber pembelajaran, serta mensyukuri nikmat Allah SWT. Ketika anak mampu bersyukur, di situlah tumbuh kecintaannya kepada Allah,” ungkapnya.

Menurut Depon, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru RA dalam merancang pembelajaran berbasis alam yang bermakna, kontekstual, menyenangkan, serta sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak.

Guru, kata dia, tidak cukup hanya memahami konsep pembelajaran secara teoritis. Pengetahuan dan nilai yang diperoleh melalui kegiatan BDA harus diterjemahkan menjadi metode pembelajaran yang konkret agar manfaatnya benar-benar sampai dan dirasakan langsung oleh murid RA.

“Kami ingin peserta memahami konsep BDA secara utuh, bukan hanya kemasannya, tetapi juga substansinya. Nilai dari kegiatan ini harus sampai kepada murid RA,” tegasnya.

Pernyataan tersebut memperjelas posisi kerja sama IGRA dengan Institut Alam Rimba. Alam tidak hanya ditempatkan sebagai latar kegiatan, tetapi harus menjadi ruang belajar yang hidup, tempat anak mengenal lingkungan, membangun kebiasaan baik, serta menumbuhkan karakter melalui pengalaman langsung.

 

 

Alam Menjadi Ruang Pembentukan Karakter

Melalui permainan dan pembelajaran berbasis alam, guru diharapkan mampu melatih kedisiplinan, tanggung jawab, pengendalian diri, kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, serta kebiasaan saling membantu pada diri murid.

Pembelajaran kontekstual melalui permainan interaktif dinilai lebih efektif karena anak tidak hanya mendengarkan penjelasan. Mereka terlibat langsung dalam kegiatan, berinteraksi dengan teman, dan mengenali kondisi lingkungan di sekitarnya.

“Murid belajar bermain secara bergantian, mengantre, menyelesaikan permainan, bekerja sama, peduli kepada sesama, dan menjaga lingkungan. Semua itu menjadi bagian penting dari penguatan karakter serta perkembangan sosial dan emosional murid,” jelas Depon.

Program BDA merupakan kelanjutan dari program parenting yang sebelumnya dilaksanakan PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya. Program parenting tersebut difokuskan pada pembangunan sinergi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter anak.

Program parenting dan BDA menjadi bagian dari kontribusi nyata PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya dalam meningkatkan mutu pendidikan karakter. Sekolah dan keluarga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri karena keduanya memegang peran penting dalam menentukan kebiasaan serta tumbuh kembang anak.

“Kami memiliki slogan, ‘Dari PD IGRA Kabupaten Tasikmalaya untuk Kabupaten Tasikmalaya.’ Ke depan, kami berharap langkah kecil ini dapat berkembang menjadi kontribusi PD IGRA untuk Jawa Barat Istimewa,” katanya.

Kurikulum Harus Hidup dalam Praktik

Kurikulum Ekologi IAR akan disusun dalam bentuk buku panduan yang memuat konsep pendidikan lingkungan hidup. Metode penerapan dan penilaiannya akan dikembangkan bersama IGRA dengan menyesuaikan kebutuhan serta karakteristik pembelajaran anak usia dini.

Materinya akan diselaraskan dengan Kurikulum Berbasis Cinta Kementerian Agama, khususnya pada aspek cinta terhadap lingkungan atau ekoteologi. Penerapannya dimulai melalui kebiasaan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan ruang kelas, menanam, merawat, dan menyiram tanaman di lingkungan sekolah.

Langkah tersebut tidak boleh dipandang sepele. Kebiasaan yang ditanamkan sejak dini merupakan fondasi untuk membentuk generasi yang disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian alam.

Abah Irdas menilai kolaborasi tersebut menjadi titik terang bagi pergerakan Institut Alam Rimba dalam memperluas jangkauan pendidikan ekologi.

“Alhamdulillah, kegiatan ini menjadi titik terang bagi pergerakan kita. Kurikulum Institut Alam Rimba akan diadopsi dalam bentuk implementasi nyata. Kita mulai dengan bismillah dan komitmen untuk menjalankannya secara sungguh-sungguh,” kata Abah Irdas.

Menurutnya, kurikulum tidak boleh hanya menjadi tumpukan dokumen atau bahan diskusi. Kurikulum harus hidup melalui praktik, membentuk kebiasaan, serta menghadirkan perubahan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh peserta didik.

Program Pesta Telur Perkuat Edukasi Gizi

Dalam kolaborasi tersebut, Institut Alam Rimba juga mengadopsi Program Pesta Telur sebagai bagian dari pendidikan kesehatan, pemenuhan gizi, dan ketahanan pangan.

Program tersebut tidak sekadar mengenalkan telur sebagai sumber protein hewani, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya pola hidup sehat, pencegahan stunting, kemandirian pangan, serta tanggung jawab keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

Salah satu Dewan Pembina Institut Alam Rimba, Khifayati Nursetiana, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh terputus dari realitas kehidupan.

“Pendidikan tidak cukup hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Anak-anak harus dikenalkan secara langsung kepada alam, lingkungan, ketahanan pangan, dan pola hidup sehat. Kurikulum Ekologi bersama Program Pesta Telur harus menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat berkelanjutan,” tegasnya.

Yanti Permayanti menambahkan bahwa pendidikan anak usia dini harus memberikan ruang yang lebih luas bagi anak untuk berinteraksi dengan alam. Anak-anak tidak boleh terus-menerus bergantung pada permainan melalui telepon seluler, tablet, maupun perangkat digital lainnya.

“Pendidikan sejak dini harus dekat dengan alam. Penggunaan gawai secara berlebihan berpotensi mengurangi perhatian anak terhadap lingkungan dan menghambat terbentuknya kepedulian melalui tindakan nyata,” ujarnya.

Menurut Yanti, pendidikan lingkungan juga harus diterapkan di dalam keluarga karena rumah merupakan lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan, karakter, dan tumbuh kembang anak.

Keberhasilan seluruh program tersebut membutuhkan keterlibatan aktif lembaga pendidikan, pemerintah, tenaga pendidik, keluarga, dan masyarakat. Tanpa pembagian peran yang jelas, pendampingan, serta pengawasan yang konsisten, gagasan yang baik berisiko berubah menjadi kegiatan sesaat tanpa dampak jangka panjang.

Institut Alam Rimba menegaskan bahwa kerja sama tersebut harus dibuktikan melalui pelaksanaan nyata. Targetnya harus jelas, penerapannya harus terukur, dan hasilnya harus dievaluasi secara terbuka.

Sebab, persoalan lingkungan, pembentukan karakter, gizi, dan ketahanan pangan tidak akan selesai melalui slogan ataupun seremoni. Semua membutuhkan keberanian untuk bergerak, kerja bersama, serta konsistensi dalam menghadirkan bukti. (Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *