TASIKMALAYA | Media Kabar Sembilan — Institut Alam Rimba Puncak Suji mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim) sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim dan pelestarian lingkungan berbasis desa.
Persiapan dilakukan dengan menyusun konsep program, materi edukasi, sasaran kegiatan, kebutuhan lapangan, pembagian tugas, hingga tahapan pelaksanaan. Institut juga mulai merumuskan indikator keberhasilan agar program tersebut berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Langkah ini dinilai penting karena persoalan lingkungan tidak cukup ditangani melalui kegiatan seremonial. ProKlim harus mampu mendorong perubahan pola pikir, membangun kebiasaan ramah lingkungan, serta melahirkan aksi nyata yang dilakukan bersama oleh masyarakat.
Risna Nurhajani, Duta Lingkungan Hidup Jawa Barat sekaligus Staf Divisi Kurikulum dan Pengajaran Institut Alam Rimba Puncak Suji, mengatakan ProKlim diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyebab, dampak, dan langkah nyata dalam menghadapi perubahan iklim.
“Materi yang kami persiapkan mencakup pengelolaan sampah, penghijauan, perlindungan sumber air, ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, penghematan energi, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana,” ujar Risna.
Menurutnya, perubahan iklim bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Dampaknya mulai dirasakan melalui perubahan pola musim, curah hujan yang tidak menentu, kekeringan, banjir, longsor, berkurangnya sumber air, serta terganggunya produktivitas pertanian.
Kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, terutama di tingkat desa yang bersentuhan langsung dengan sumber daya alam, pertanian, sumber air, dan berbagai potensi kerawanan bencana. Karena itu, masyarakat perlu diberikan pengetahuan sekaligus keterampilan untuk memperkuat ketahanan lingkungannya.
“Pelaksanaan ProKlim akan mengedepankan pendekatan edukatif dan partisipatif. Masyarakat tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak mengenali persoalan di lingkungannya, menyusun langkah penanganan, dan melaksanakan praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Risna menambahkan, sejumlah kegiatan tengah dipersiapkan, mulai dari pemilahan dan pengolahan sampah, pembuatan kompos, pembuatan lubang biopori, penanaman dan perawatan pohon, hingga perlindungan mata air serta pemanfaatan lahan produktif.
Program tersebut juga akan dilengkapi dengan pemetaan sederhana untuk mengenali potensi sumber daya dan risiko lingkungan di setiap desa. Hasil pemetaan diharapkan menjadi dasar dalam menentukan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah masing-masing.
“Program ini akan melibatkan pemerintah desa, kepala wilayah atau kepala dusun, unsur RT dan RW, Tim Penggerak PKK, kelompok tani, karang taruna, kader lingkungan, pengelola bank sampah, pelajar, serta unsur masyarakat lainnya,” terang Risna.
Ia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan program. ProKlim harus tumbuh sebagai gerakan bersama yang dilaksanakan secara konsisten, bukan sekadar menjadi agenda sesaat tanpa tindak lanjut dan ukuran keberhasilan yang jelas.
“ProKlim harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar kegiatan seremonial. Masyarakat harus ditempatkan sebagai pelaku utama dalam menjaga dan memperbaiki kondisi lingkungannya,” tegas Risna.
Untuk memastikan program berjalan profesional, Institut Alam Rimba Puncak Suji juga akan memperkuat koordinasi internal melalui penyusunan target, lini masa, standar operasional prosedur, pembagian tugas dan fungsi, serta mekanisme pelaporan dan evaluasi.
Setiap tahapan akan memiliki penanggung jawab, batas waktu, dan indikator capaian yang jelas. Perkembangan program juga akan dipantau secara berkala agar setiap kendala dapat segera dievaluasi dan ditindaklanjuti bersama.
Penguatan sistem kerja tersebut diperlukan agar prinsip kolektif kolegial tetap berjalan seiring dengan profesionalisme, kedisiplinan, dan tanggung jawab organisasi. Dengan tata kelola yang baik, setiap divisi diharapkan mampu bergerak sesuai bidang dan target yang telah disepakati.
Sementara itu, Shepia Nur Latifah, Koordinator Divisi Kemitraan dan Hubungan Masyarakat Institut Alam Rimba Puncak Suji, mengatakan pihaknya juga tengah mempersiapkan program sosialisasi pengelolaan sampah berbasis desa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ProKlim.
“ProKlim dan pengelolaan sampah berbasis desa akan dikembangkan secara terpadu. Pengelolaan sampah memiliki hubungan langsung dengan kebersihan lingkungan, kesehatan masyarakat, pengurangan emisi, serta ketahanan desa dalam menghadapi perubahan iklim,” ujar Shepia.
Menurutnya, permasalahan sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dari sumbernya. Rumah tangga dan lingkungan desa perlu diperkuat melalui edukasi pemilahan, pengolahan sampah organik, pemanfaatan sampah yang masih bernilai, serta penanganan sampah residu secara tepat.
Pendekatan berbasis desa diharapkan mampu mengurangi jumlah sampah yang dibuang sekaligus membuka ruang bagi kegiatan produktif. Pengelolaan sampah juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Shepia menjelaskan, Institut Alam Rimba Puncak Suji akan membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, kecamatan, pemerintah desa, lembaga pendidikan, komunitas lingkungan, dunia usaha, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengendalian perubahan iklim.
Kolaborasi lintas sektor diperlukan karena persoalan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga. Setiap pihak perlu mengambil peran berdasarkan kewenangan, kemampuan, sumber daya, dan tanggung jawabnya masing-masing.
“Melalui persiapan yang terukur dan kolaborasi lintas sektor, kami berharap dapat melahirkan model gerakan lingkungan berbasis desa yang dijalankan secara konsisten, dapat dievaluasi, dan selanjutnya dikembangkan ke wilayah lainnya,” jelasnya.
Shepia menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan atau peserta yang hadir. Ukuran terpenting adalah munculnya perubahan kebiasaan dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga hutan, mengelola sampah, melindungi sumber air, serta memperkuat ketahanan pangan.
Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesiapan desa dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan risiko bencana. Dengan pengetahuan, perencanaan, dan kerja sama yang kuat, desa dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
“Perubahan iklim merupakan persoalan bersama. Langkah besar selalu dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, mulai dari keluarga, lingkungan, hingga tingkat desa,” pungkas Shepia.
Melalui ProKlim dan sosialisasi pengelolaan sampah berbasis desa, Institut Alam Rimba Puncak Suji berupaya menghadirkan pendidikan lingkungan yang tidak berhenti di ruang diskusi. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi tindakan, sementara tindakan harus dijaga agar berkembang menjadi kebiasaan dan gerakan bersama.
Institut berharap persiapan yang dilakukan dapat menjadi fondasi bagi lahirnya program lingkungan yang terukur, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata. Desa tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan, tetapi ditempatkan sebagai pusat perubahan dalam menghadapi tantangan iklim dan menjaga keberlanjutan alam bagi generasi mendatang. (tim).










