Sarasehan Lingkungan di Hulu Sungai Cimedang: Khifayati Tegaskan, “Jangan Warisi Air Mata, Warisilah Mata Air”

Tasikmalaya | Media Kabar Sembilan — Persoalan lingkungan hidup tidak bisa lagi hanya dibicarakan di ruang-ruang formal. Di tengah ancaman banjir, pencemaran sungai, dan terus meningkatnya volume sampah, gerakan nyata dari masyarakat menjadi kebutuhan yang mendesak.

Pesan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Lingkungan Hidup yang digelar Bank Sampah Bati Resik bersama Komunitas Lembur Kuring dan Institut Alam Rimba Puncaksuji, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di alam terbuka, tepat di kawasan hulu Sungai Cimedang, Kampung Cukang Akar, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, itu dihadiri ratusan masyarakat Salopa serta sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Institut Alam Rimba, Khifayati Nursetiana, S.Pd., yang juga merupakan istri Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al-Ayubi.

Turut hadir Camat Salopa Rosyid, Plh. Kapolsek Salopa Ipda Yayat Veri H., perwakilan Danramil 1219/Salopa, Kepala Desa Mandalaguna Dedi Supriyadi, jajaran Forkopimcam Salopa, tokoh masyarakat, tokoh agama, para pegiat lingkungan hidup, serta ratusan masyarakat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, aparat, komunitas, tokoh masyarakat, hingga warga harus berdiri dalam satu barisan untuk menjaga sungai dan lingkungan dari ancaman kerusakan.

Dari Tari Anak SD hingga Senam Bersama

Sebelum sarasehan dimulai, rombongan Khifayati bersama unsur Bidang Lingkungan Hidup Dinas PUTRLH Kabupaten Tasikmalaya dan para pegiat lingkungan mendapat sambutan dari anak-anak SDN 2 Salopa melalui penampilan seni tari.

Suasana semakin semarak ketika Perwosi (Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia) Kecamatan Salopa menggelar senam bersama. Khifayati bahkan ikut turun langsung dan bersenam bersama masyarakat.

Usai kegiatan tersebut, Khifayati meninjau langsung aktivitas Bank Sampah Bati Resik, termasuk lokasi pengolahan limbah menjadi paving block.

Ia juga menyempatkan diri berbincang dengan para ibu yang membuka stand bazar UMKM di lokasi kegiatan. Setelah melihat langsung aktivitas masyarakat, Khifayati kemudian menyampaikan pandangannya dalam Sarasehan Lingkungan Hidup.

Khifayati: Jangan Warisi Air Mata, Warisilah Mata Air

Khifayati yang mengaku telah aktif dalam kegiatan lingkungan hidup sejak berada di Bekasi, memberikan apresiasi terhadap keberadaan Bank Sampah Bati Resik dan kegiatan sarasehan tersebut.

Menurutnya, gerakan seperti ini harus diperbanyak dan direplikasi oleh komunitas lain.

“Ini harus banyak-banyak dilakukan dan diduplikasi oleh komunitas lainnya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penyelamatan lingkungan,” ujar Khifayati.

Ia menilai kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hingga saat ini belum sepenuhnya tumbuh. Salah satu indikasinya masih banyak ditemukan sampah yang mencemari aliran sungai.

Kondisi tersebut, menurutnya, tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memperbesar risiko bencana, termasuk banjir.

“Kita ketahui bersama, alam kita sedang tidak baik-baik saja. Jangan warisi air mata pada anak cucu kita kelak, tapi warisilah mata air,” tegasnya.

Menurut Khifayati, keberadaan bank sampah dan forum sarasehan merupakan bagian dari langkah konkret untuk membangun kesadaran sekaligus menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang semakin luas.

Bank Sampah Jangan Berhenti pada Pemilahan

Khifayati juga menyoroti pengelolaan Bank Sampah Bati Resik yang saat ini masih banyak berfokus pada pengumpulan, pemilahan, kemudian menjual kembali sampah yang memiliki nilai ekonomi.

Menurutnya, langkah tersebut sudah baik. Namun, potensi ekonominya masih dapat ditingkatkan.

Karena itu, ia mendorong Bank Sampah Bati Resik menjalin kerja sama dengan Aksata (Aksi Kelola Sampah Kita) Bekasi, yang dinilai telah memiliki pengalaman dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

“Lakukan studi tiru ke PT Aksata, nanti melalui Pak Camat. Di sana ada mesin pencacah plastik. Jika sudah menjalin kerja sama, bisa saja nanti dikirim mesin pencacah oleh Aksata, selanjutnya produknya diterima oleh Aksata. Adapun kami berusaha bantu hal lainnya,” katanya.

Gagasan tersebut mendapat respons positif dari pengurus Bank Sampah Bati Resik.

Produksi Sampah Capai 1 Ton per Bulan

Salah seorang pengurus Bank Sampah Bati Resik, Edi Supriyadi, atau yang akrab disapa Dedi Choy, mengapresiasi dorongan tersebut.

Ia berharap rencana pengadaan mesin pencacah plastik tidak berhenti sebatas wacana, tetapi benar-benar dapat direalisasikan.

“Kami juga berharap seperti itu. Namun untuk melangkah ke hal itu, mohon bimbingan dan arahan dari Pemkab Tasikmalaya, langkah apa yang mesti kami lakukan,” ungkap Dedi.

Menurutnya, aktivitas Bank Sampah Bati Resik saat ini mampu mengelola sampah hingga sekitar 1 ton per bulan.

Dengan adanya mesin pencacah plastik, kata Dedi, kapasitas pengelolaan sampah dapat ditingkatkan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“Dengan mesin pencacah, selain menyerap sampah dari masyarakat lebih besar, meringankan beban kerja, juga nilai ekonomisnya tinggi,” ujarnya.

Camat Salopa: Perlu Dukungan Pemerintah Kabupaten

Hal senada disampaikan Camat Salopa Rosyid.

Selain mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, Rosyid berharap pengembangan Bank Sampah Bati Resik mendapat dukungan konkret dari Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.

Salah satunya melalui bantuan mesin pengolah atau penghancur sampah.

“Mohon dorongan dari kabupaten, khususnya untuk peningkatan dan kemajuan Bank Sampah Bati Resik ini,” kata Rosyid.

Permintaan tersebut menjadi penting karena keberadaan bank sampah tidak hanya berkaitan dengan persoalan kebersihan, tetapi juga menyangkut pemberdayaan masyarakat dan potensi ekonomi berbasis lingkungan.

Gerakan Lingkungan Harus Naik Kelas

Sarasehan di hulu Sungai Cimedang tersebut memperlihatkan satu persoalan sekaligus peluang.

Sampah yang selama ini dianggap sebagai beban justru dapat diubah menjadi sumber ekonomi apabila dikelola dengan teknologi, jaringan pemasaran, dan pendampingan yang tepat.

Namun, gerakan masyarakat tidak akan maksimal apabila berhenti pada pengumpulan dan pemilahan.

Karena itu, dukungan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi penting agar Bank Sampah Bati Resik dapat berkembang dari sekadar tempat pengumpulan sampah menjadi pusat pengolahan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Usai Sarasehan Lingkungan Hidup, Khifayati Nursetiana bersama rombongan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melanjutkan rangkaian kegiatan dengan meresmikan cabang Bank Sampah yang masih berada di wilayah Kecamatan Salopa.

Peresmian tersebut ditandai dengan pemotongan pita, dilanjutkan penanaman pohon secara simbolis sebagai bentuk komitmen terhadap penghijauan dan pelestarian lingkungan.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke aliran Sungai Cimedang. Di tiga titik berbeda, dilakukan penebaran ikan lokal sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ekosistem sungai dan menghidupkan kembali keanekaragaman hayati perairan.

Kegiatan penebaran ikan tersebut dilakukan oleh Kang Teten, dan Tim, sosok yang selama ini dikenal aktif dalam gerakan pelestarian alam, khususnya melalui kegiatan menebar ikan di sungai.

Aktivitas Kang Teten dalam menjaga dan menghidupkan ekosistem perairan tersebut juga kerap didokumentasikan dan ditayangkan melalui kanal YouTube Video Dunia Ikan, @tetenketchap9260.

Penebaran ikan lokal ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, menjadi pesan bahwa menjaga sungai tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah di permukaan, tetapi juga harus memastikan kehidupan di dalamnya tetap terjaga.

Sungai Cimedang bukan hanya aliran air, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat dan ekosistem yang harus diwariskan dalam keadaan tetap hidup kepada generasi berikutnya.

Pesannya jelas: sungai tidak boleh diwarisi sampah, dan generasi berikutnya tidak boleh menerima dampak dari kelalaian hari ini. Jika masyarakat sudah bergerak, pemerintah jangan hanya hadir dalam seremoni dukungan nyata harus menyusul.

(Media Kabar Sembilan | Biro Tasikmalaya)

 

Pos terkait